22. Adat Lama Pusaka Usang (3)

Semua keluarga kerajaan menikmati makan malam yang tersedia, termasuk diriku. Tidak berbeda peraturan makan dari duniaku dengan alam ini, semua tertib tanpa bicara apa-apa menyantap sajian di tiap-tiap lopak.

Sajian terlezat yang pernah ku santap. Kira-kira, siapa yang membuat? Apakah memang Adome? Kalau terus begini, jiwaku bisa menjadi gemuk dan bahagia. Sayangnya, sekalipun menyenangkan… ini bukan alamku. Kalau saja dapat hidup selamanya di sini, aku bebas dari masalah bertubi-tubi yang datang mengganggu.

“Giovani, kenapa kau melamun?” tanya Taeglyn tiba-tiba, dia memberaikan bayanganku.

“Saya nggak apa-apa, pangeran.” Aku menggeleng.

“Betulkah kau baik-baik saja?” Taeglyn terlihat tidak puas pada sahutanku.

“Saya serius.”

“Baiklah, silakan lanjut makan malamnya.”

Aku meneruskan sorongan sendok berisi makaroni pilin bercampur krim kental dan sayuran. Entah apa namanya, pastinya begitu lezat. Belum pernah diri ini mencoba makanan paling enak selama di duniaku. Hanya di sini, baru bisa mencoba makanan mahal.. Santapan yang hanya bisa dibeli oleh sosok berlimpah harta macam karakter dalam tonil televisi.

Hidup di sini ada 2 sisi, setidaknya bagiku. Apakah si Mbok menyadari bahwa jiwa anak asuh dia sedang tidak ada di”tempatnya”? Sisi lainnya, inilah kehidupan aku cari. Di sekitarku, melembak sosok baik dan… menikmati tinggal di istana. Urusan terkukung atau tidak, belakangan. Mungkin, aku pernah berkata kalau ingin bebas… terbang bagai kukila ke langit.

Pengecualian di sini, akan lebih senang diriku jika melanglang tidak sendirian. Serasa lebih aman, karena rasa berkata mereka adalah makhluk baik. Baik dalam artian, aku tidak pernah mengganggu kedamaian para bangsa “mitos” itu.

Seandainya aku mengganggu, sudah pasti tidak ada kejadian seperti tadi. Norlorn dan pangeran Taeglyn harus ikut turnamen pedang. Untuk orang seperti aku, jelas tidak masuk akal. Kejadian ini bukan komidi bangsawan bukan?

“Giovani!” seru Taeglyn sedikit keras.

“Taeglyn, kau bisa diam tidak?!” Nueleth memelotot.

“Ya… pangeran?”

Suara kedua makhluk yang sedari tadi bergaduh, kembali memberantakkan angan-agan. Pertengkaran Nueleth dan pangeran Taeglyn belum selesai? Ada-ada saja!

“Ada apa denganmu, Giovani? Kenapa kau terus-menerus melamun?”

“Tidak usah sok perhatian, Taeglyn!” Birai berwarna merah jambu milik Nueleth maju, mengambal Taeglyn dari seberang piring.

“Apa urusanmu!? Giovani calon istriku!” Suara Taeglyn melaung pada Nueleth.

“Enak saja! Dasar perebut kekasih!”

“Tanpa aku rebut, wanita manapun akan tertarik padaku,” Taeglyn tersenyum nakal.

“Anak-anak! Bisakah tenang dulu seraya menghabiskan makanan kalian?” Raja mematahkan perdebatan.

“Taeglyn yang memulai, paman!” tunjuk Nueleth.

“Dia yang memulai, Ayah. Nueleth mengataiku perebut kekasih!” ujar Taeglyn tidak mau kalah.

“Kalau kalian bertengkar terus, sebaiknya kalian berdua ku nikahkan!” Raja berseru, tatapannya usil pada Nueleth dan Taeglyn.

“TIDAK MAU…!!”

Taeglyn dan Nueleth kompak. Yang lain hanya bisa mengangkat bahu bersama lirikan tanda tanya, termasuk diriku. Memangnya boleh sepupu menikahi sepupunya juga? Apa peraturannya berbeda dari duniaku?

“Jika kalian tidak ingin ku jadikan pasangan suami istri, sebaiknya jangan bertengkar.”

“Siapa juga yang ingin menikahi perempuan galak dan perawan tua macam dirimu, Nueleth?” Taeglyn menggonjak.

“Setidaknya, aku lebih terhormat dibanding kau… perebut kekasih saudaranya sendiri.” balas Nueleth menurunkan jempol.

Tidak tahu lagi harus komentar apa untuk kekacauan di ruang makan. Untung saja, aku tidak punya sifat membuang makanan. Mau ada kejadian apapun, kalau aku menyukai makanan tersebut, selera makan tak akan hilang meski ada pengecualian, hal yang membuat pusing.

“Apa katamu saja, perempuan galak.”

“Perebut kekasih saudaranya sendiri!”

Melihat Nueleth dan Taeglyn bertengkar, aku seperti melihat film televisi hidup. Maksudku, terlihat secara langsung depan mata tanpa dibuat-buat. Seandainya Nueleth dan Taeglyn bisa menjelma menjadi manusia, kemampuan bertengkar mereka patut diperhitungkan untuk memerankan tokoh keras kepala sekaligus antiwirawan.

“CUKUP…!!”

Norlorn berdengking, membuat semua fokus terpaku padanya. Tidak terkecuali yang sedang bertengkar. Kemudian, situasi mulai hening. Mulut Nueleth bergerak menerbitkan kisikan tidak jelas.

“Aku muak!” sambung Norlorn.

Badan dia bangun dari kedera, netra Norlorn memperhatikan Taeglyn dan Nueleth dengan kerlingan dongkol sembari menyambung, “ Selera makanku sudah hilang, aku kembali ke kamar saja!”

“Norlorn, tidak baik kau meninggalkan makan malam sebelum habis.” Tuan Nyvorlas melalau.

“Karena dua makhluk ini, aku jadi tidak berselera makan lagi,” Norlorn menuding seraya berlalu dari ruang makan.

“Semua karena kau...!!” Nueleth dan Taeglyn Cumiau seia-sekata.

“Anak-anak!” Raja menggeleng kepala, mimik dia terlihat mumet. Tangan dia mengiprat dahi akibat silang pendapat antara putra dan keponakannya.

Gila! Baru mengalami adegan di sinetron secara langsung. Aku pikir, hidupku sudah cukup sinetron. Rupanya, alam lain juga. Sepertinya, slogan aplikasi pemutar film itu benar, hidup adalah drama.

“Karena kau, gairah makanku jadi ikut hilang!” Taeglyn Cumiik.

“Hey! Kau yang memulai!” tunjuk Nueleth.

“KALIAN…!!” Tuan Nyvorlas menyalang, kedua tangan dia membentuk tanda silang berharap kericuhan berhenti.

“Daripada kalian bertengkar, hentikan makan malam ini!” Raja memerintah, dia ikut bangkit bersamaan Tuan Nyvorlas. Semua pangeran ikut bangun, terkecuali pelayan dan aku yang masih berusaha menghabiskan santapan.

“Giovani, sudahi makan malamnya,” sahut Taeglyn.

Yang benar saja? Tinggal dua suapan lagi harus ditinggal?

“Tapi…”

“Jangan membantah,”

“Baiklah pangeran,”

Dengan amat terpaksa, aku ikut bangun dari kursi seperti yang lain. Apa sih ini? Seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Apa semua ini karena diriku datang, ya?”

“Bukan salahmu, tapi salah dia!” Taeglyn bertempik, telunjuk dia terangkat pada Nueleth.

“Terserah kau!” Nueleth merutuk. Lantas, dia meninggalkan ruang makan buru-buru tanpa menoleh.

“Ayo Giovani, kita ke kamarku saja!” Taeglyn asam, tangan ia menarik tanganku kencang dari kursi. Membuatku tidak dapat menggarit selain mengikuti dia. Sementara, Raja dan Tuan Nyvorlas ikut keluar sekaligus tiga pangeran lain di belakang.

Ya ampun, belum mulai turnamen saja sudah begini, apalagi setelah turnamen? Apakah ada yang akan berjiwa besar menyambut kekalahan? Cuma semesta dan Tuhan jawabannya. Ayolah… kenapa semua menjadi panas? Hidup ini sudah cukup menderita oleh drama ditimbulkan di duniaku, dan sekarang tambah menjadi setelah ada di sini. Aku sudah muak menjadi pemeran “sinetron kehidupan”, ku harap tidak bertumbuh peran dan perkara lain. Mudah-mudahan.

No comments:

Post a Comment